Feed aggregator

HOOQ dan Airy Tutup, Ketularan COVID-19?

ad-12 Blog - Mon, 05/11/2020 - 09:55

Di dunia bisnis, jatuh bangunnya suatu usaha, berikut produknya, menjadi hal biasa. Terlebih di era online, saat produk  yang ditawarkan semakin abstrak dan cepat berubah. Seperti counterpart-nya di dunia “nyata”, aplikasi atau layanan berbasis web bisa berubah wajah, berganti kepemilikan, hingga akhirnya menghilang tanpa jejak. Bahkan, nama besar di balik sebuah aplikasi/layanan tidak menjamin, contoh: Yahoo! GeoCities, Google Reader, Yahoo Messenger, hingga BBM. Dalam situasi krisis atau resesi, bisnis online pastilah akan terpengaruh.

Di tengah situasi krisis akibat pandemi COVID-19, alias virus Corona ini efeknya terasa pada semua sektor kehidupan. Tutupnya fasilitas umum, pembatasan event, penutupan akses, berdampak pada dunia usaha mulai pemotongan gaji, PHK, hingga penutupan usaha. Meskipun ada juga sektor usaha yang justru berkembang di tengah situasi ini. Kali ini ada dua aplikasi/layanan online yang menutup usahanya di tengah pandemi COVID-19 yaitu HOOQ (layanan video streaming) dan Airy (layanan booking hotel dan tiket pesawat). Layanan HOOQ sebenarnya cukup populer karena banyak ditawarkan dalam paket-paket internet dari operator-operator telekomunikasi di Indonesia. Namun, pemegang saham mayoritasnya, Singtel, telah memutuskan untuk melikuidasi HOOQ pada akhir bulan April 2020. Sementara itu, Airy akan berhenti beroperasi pada akhir bulan Mei 2020. Industri pariwisata secara umum memang sangat terpukul akibat situasi pandemi COVID-19 ini.

Selamat Jalan, Glenn dan Didi Kempot

Lawnosta-B - Tue, 05/05/2020 - 15:46
Saat musisi/penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia pada tanggal 8 April 2020 yang lalu, sebenarnya Penulis sudah gatal untuk menulis di blog ini. Ternyata, butuh waktu hampir sebulan untuk itu, saat musisi/penyanyi lain juga meninggal dunia, kali ini Didi Kempot, yang meninggal pada tanggal 5 Mei 2020. Kiprah keduanya di musik Indonesia terbilang cukup lama, hanya […]

Sugar, Bukan Gula-gula Biasa

ad-12 Blog - Wed, 04/08/2020 - 05:21

Masih ingat dengan proyek One Laptop Per Child (OLPC)? Proyek yang digagas oleh Nicholas Negroponte pada tahun 2005 ini berambisi untuk membuat dan mendistribusikan laptop ke anak-anak di negara berkembang. Laptop tersebut dirancang khusus dan diberi nama XO. Laptop unik ini dilengkapi komponen hemat energi, casing tahan banting dan air, layar yang bisa diputar 360 derajat, dan perangkat lunak sumber terbuka (open source software) untuk sistem operasi dan aplikasinya. Perangkat lunak untuk OLPC disebut Sugar, berbasis distro Linux Fedora dan bahasa pemrograman Python 2.5. Pada tahun 2008, sistem operasi Microsoft Windows XP dipertimbangkan untuk menjadi sistem operasi alternatif bagi OLPC XO. Akibatnya, Walter Bender, kepala pengembangan perangkat lunak dan konten mengundurkan diri dari OLPC dan mendirikan Sugar Labs untuk melanjutkan pengembangan Sugar, yang kini tidak lagi terikat pada distro linux Fedora.

Tampilan Sugar (sumber: sugarlabs.org)

Sugar kini tersedia sebagai paket yang bisa diinstalasikan pada sejumlah distro linux seperti Ubuntu, openSUSE, Debian, dan Trisquel Toast. Sugar juga tersedia untuk platform Raspberry Pi. Secara tidak resmi, Sugar telah dimodifikasi untuk berjalan di sistem operasi lain seperti Android, FirefoxOS, iOS, macOS, dan Windows di bawah proyek Sugarizer, yang juga bisa dijalankan via browser web. Untuk mencoba Sugar di komputer, Anda bisa mengunduh Sugar on a Stick (SoaS) dan menyalinnya ke USB Flash Drive berkapasitas 2 GB atau lebih menggunakan aplikasi seperti Fedora Live USB Creator atau Rufus(di sistem operasi Windows).

Tampilan Sugarizer, diakses via Google Chrome

Sugar berbeda dengan konsep sistem operasi pada umumnya, karena fokus pada aktivitas yang langsung bisa dikerjakan oleh pengguna, yang umumnya anak-anak usia sekolah. Ada aplikasi untuk menggambar, mewarnai, belajar tentang huruf/angka, pemrograman sederhana, dan permainan edukatif. Anda berminat mencoba?

Clivillés + Cole (C+C Music Factory)

Lawnosta-B - Tue, 04/07/2020 - 05:22
Para penggemar musik di luar era 80-an dan 90-an mungkin kurang mengenal C+C Music Factory, namun mungkin sudah pernah mendengar hit terbesar mereka, Gonna Make You Sweat, terutama catchphrasenya …. Everybody Dance Now…! Yep, lagu dan frase tersebut sampai hari ini begitu ikonik, sampai-sampai menenggelamkan artis pelantunnya, apalagi kisah di balik lagu, artis musik, sampai […]

From a Distancing

Little-little Sih... I Can - Mon, 04/06/2020 - 09:14
The plague has arrived, close your house, keep your distance, put on your mask, wash your hands, and pray for the best. After the dive, it's time for a lockdown, or whatever it's called. For some of us, to stay at home is a relief, a chance to reconnect to the family, for other ones, it means a dead end, the loss of income, and a path to a bleak future. But for me, the real threat is to our humanity, our sociality, and our recognition of the vulnerability of life. We also learn about leadership, especially in a time of crisis. I've been through a number of crisis myself in the last couple of years, but not alike this time. A crisis of this magnitude keeps me thinking of whether we can get out of it, when, and what it's gonna be after. Always hope for the best, prepare for the worst, I guess.

New Year's Dive

Little-little Sih... I Can - Mon, 04/06/2020 - 05:32
This year starts with a tide... a tidal wave. Nonstop rain during the new year's eve finally send water inside my house. One month later, it happens again. And there goes my good night sleeps.Every time it rains, my eyes just could not close. My heart beats faster, my mind keeps counting down the rain drops, my lips pray for it not lasts. My mind writes a list of things that must be moved to keep them from drowning. Every second counts and every rain drop means agony, every look out of window for early signs of flood.

Milli Vanilli dan Sejarah Para “Frontman”

Lawnosta-B - Sat, 04/04/2020 - 08:42
Milli Vanilli akan dikenang sebagai “penipu” atau minimal “artis ilpsync”, meskipun kalau dipikir-pikir, duo Rob Pilatus dan Fab Morvan tidaklah mungkin bertindak sendiri, atas inisiatif mereka berdua. Ironisnya, bahwa produser Frank Farian sebagai mastermind utamanya sampai hari ini masih menjalani kariernya seperti biasa, dan tak seorang pun akan mengenangnya sebagai “The Real Milli Vanilli”. Di […]

Office 365 Sekarang Microsoft 365

ad-12 Blog - Fri, 04/03/2020 - 04:00

Apa arti sebuah nama? Di dunia bisnis nama produk berkaitan erat dengan branding, sebuah strategi untuk menanamkan produk ke dalam benak konsumennya. Microsoft tidaklah asing dengan strategi ini. Perhatikan saja penamaan produk-produknya, seperti Windows (1.0, 2.0, 3.1, 95, 98, Me, NT, 2000, XP, Vista, 7, 8, 10) atau yang lebih random lagi adalah layanan webmail (Hotmail, MSN Hotmail, Windows Live (Hot)mail, Outlook.com). Produk Microsoft Office biasanya menggunakan penamaan yang mengacu pada Microsoft Windows, meskipun belakangan konsisten menggunakan tahun rilis (2007, 2010, 2013, 2016, 2019). Kemudian ada produk Office 365, Office Online, dan Office Mobile. Office 365 menawarkan layanan “berlangganan” Microsoft Office per bulan/tahun dengan fasilitas tambahan berupa tambahan kapasitas penyimpanan di OneDrive dan sejumlah menit percakapan via Skype/bulan. Selain itu, versi aplikasi Office akan diperbarui secara otomatis selama masa berlangganan.

Nah, untuk memperingati Hari Kartini (:P) Microsoft akan meluncurkan kembali layanan Office 365 sebagai Microsoft 365 pada tanggal 21 April 2020.  Sebenarnya, nama Microsoft 365 sebelumnya sudah ada, dalam bentuk paket layanan Windows, Office 365, dan security services untuk pelanggan bisnis/enterprise yang diluncurkan tahun 2017. Untuk membedakan dengan layanan baru, jajaran produk Microsoft 365 adalah: Microsoft 365 Personal (sebelumnya Office 365 Personal), Microsoft 365 Family (sebelumnya Office 365 Home), Microsoft 365 Business Standard (sebelumnya Office 365 Business Premium), dan Microsoft 365 Business Premium (sebelumnya Microsoft 365 Business).

Microsoft 365 Personal dan Family ditawarkan dengan harga yang sama dengan Office 365 namun dengan penambahan fitur seperti: Microsoft Teams, Microsoft Editor (AI-powered writing assistant), penyimpanan 50 GB untuk Outlook,com, dukungan teknis untuk Windows 10, dan Microsoft Family Safety.

Neil Peart (1952 – 2020)

Lawnosta-B - Wed, 01/15/2020 - 09:19
Sekali lagi, dunia musik khususnya musik rock/progressive rock kembali kehilangan salah satu musisi terbaiknya. Setelah Keith Emerson (ELP), Chris Squire (Yes), Greg Lake (ELP, ex-King Crimson), dan John Wetton (ex-King Crimson, Asia), pada tanggal 7 Januari 2020 Neil Peart, drummer band asal Kanada Rush meninggal dunia. Ia bergabung dengan Geddy Lee (bass, vokal) dan Alex […]

The Fountain (of Youth)

Little-little Sih... I Can - Mon, 12/30/2019 - 04:03
In life, seriously, only one thing is sure, that's death. Death can come suddenly, or slowly ascending through disease, or from the court of justice. Death is inevitable, but no one, or maybe most of us, don't want to face it sooner, we even discouraged to commit suicide. Some of us even treat death as another form of disease, that must be cured. We want to live forever, or as long as it can be. Even after death, we always we wonder what will happen to our soul. In (most) religions we are told about the concept of afterlife and judgment day, heaven and hell. In another religion, there is a concept of rebirth and reincarnation. Is death really the end of our existence? Or death is just another phase of life itself? Like a star that comes to extinction, turn to black hole, then supernova, blast into a big bang, and eventually give birth to a new star (or even a whole new galaxy). Can we finally conquer our fear of death (and our sadness of our beloved one's death) by embracing it?
Syndicate content