Situs ini bertujuan untuk mengumpulkan semua situs karya Imam Indra Prayudi yang gentayangan di internet
This site is meant to collect all websites created by Imam Indra Prayudi
There's a danger in loving somebody too much. Or at least some might say that. It's hard enough to lose somebody close to you, it's even harder to take the blame for that. Everybody just keep saying that if only you did everything differently, etc etc. Someone even called me crazy right into my ear. But still, when someone’s gone, it’s always for good. I don’t know why for the past two months I keep losing something. I can consider myself very careful about keep my possession safe and intact. Of course, it only takes a moment of carelessness and just like that, it’s gone. Well, you shouldn’t get what you don’t deserve, so when you lost something, maybe that thing should not belong to you.
Setelah hampir setahun sejak penyerahan kendali OpenOffice.org ke tangan Apache Software Foundation, (ASF) akhirnya rilis pertama versi OpenOffice.org dari Apache, dengan nama resmi Apache OpenOffice versi 3.4 dilakukan pada 8 Mei 2012. Apache Software Foundation menerima OpenOffice.org dari Oracle, yang mendapatkannya dari hasil akuisisi Sun Microsystems setelah terjadinya friksi di kalangan para pengembang di luar Oracle atas kebijakan dan arah pengembangan OpenOffice.org ke depan. Sejumlah besar pengembang OpenOffice.org kemudian membentuk The Document Foundation yang merilis fork OpenOffice.org bernama LibreOffice. Sejak setahun belakangan ini, LibreOffice mulai ‘mengambil alih’ posisi OpenOffice.org sebagai pilihan utama aplikasi office suite di distro-distro Linux. Namun kini, OpenOffice.org telah kembali dengan nama baru dan peta jalan yang jelas untuk pengembangan ke depan. Namun apakah ini cukup untuk ‘merebut’ kembali posisi terdepan di kategori office suite open source?
Logo (baru) Apache OpenOffice
Tentunya tidak semudah itu, apalagi LibreOffice sudah “mencuri start” terlebih dahulu saat ASF sibuk berkonsolidasi mengadopsi kode OpenOffice.org ke dalam ekosistemnya. Belum lagi, tambahan donasi dari IBM berupa kode dari office suite Lotus Symphony, yang berbasis OpenOffice.org dan Eclipse. Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa dilihat sebagai keuntungan bagi Apache OpenOffice. Pertama, brand OpenOffice (sekarang tanpa .org) lebih dikenal, terutama di luar pengguna Linux, dan juga dipandang lebih “menjual” dibandingkan nama LibreOffice yang bagi sebagian orang dirasa kurang familiar. Kedua, lisensi Apache yang disebut APL (Apache Public License) dipandang lebih bebas dibandingkan lisensi LibreOffice (LGPL), sehingga kalangan bisnis akan lebih bisa menerima OpenOffice dibandingkan LibreOffice. Apalagi, dukungan dari Oracle dan IBM (yang akan merilis versi baru IBM Lotus Symphony berbasis Apache OpenOffice) juga menambah kredibilitas Apache OpenOffice di kalangan bisnis. Pada akhirnya, penggunalah yang akan menentukan pilihan mana yang akan diambil, toh keduanya bisa didapatkan dan digunakan secara bebas.
Pengguna internet pasti sudah mengenal browser buatan Google, yaitu Chrome. Browser yang dirilis pertama kali pada tahun 2008 ini terus menanjak popularitasnya, dalam waktu yang relatif singkat telah mencapai 25% dari pengguna di seluruh dunia. Di tahun 2009, Google memperkenalkan ChromeOS yang merupakan pengembangan dari Chrome browser, yang digabungkan dengan sistem operasi Linux. ChromeOS menjanjikan sistem operasi yang cepat dan sesuai untuk pengguna aplikasi berbasis internet/web. ChromeOS baru dirilis secara resmi pada tahun 2011 bersama dengan dirilisnya Chromebooks, yaitu laptop yang dibundel dengan ChromeOS secara default.
Tampilan ChromeOS dengan Aurora Window Manager (Sumber: Wikipedia)
Chromebooks diedarkan secara terbatas, sehingga tidak banyak yang bisa mencoba ChromeOS. Untungnya, sebagai aplikasi open source, Google merilis kode ChromeOS secara terbuka dengan nama ChromiumOS pada akhir tahun 2009. Sayangnya, sampai saat ini ChromiumOS tidak dirilis dalam format siap dipakai secara resmi (terkompilasi), hanya kode sumbernya saja. Namun demikian, sejumlah versi ChromiumOS telah beredar secara luas. Yang paling populer adalah yang dikembangkan oleh seorang mahasiswa dari Manchester, Inggris yang dikenal dengan nama Hexxeh. Selain itu tersedia juga versi yang dikembangkan untuk netbook Acer dan Dell.
Untuk mencoba ChromiumOS, hanya sebuah USB Flash Disk berkapasitas 4 GB atau lebih. Unduh paket instalasi ChromiumOS dari salah satu situs di atas, lalu ekstrak file hasil unduhan berupa file .IMG. Hubungkan USB Flash Disk berkapasitas 4 GB atau lebih ke port komputer. Pengguna Windows bisa mengunakan aplikasi Windows Image Writer yang bisa diunduh gratis. Sedangkan pengguna linux bisa langsung menggunakan perintah dd (dd if=<path file .IMG> of=/dev/sdxx ). Tunggu hingga proses transfer file .IMG ke USB Flash Disk selesai, lalu boot ulang komputer/laptop dan atur device boot agar menggunakan USB Flash Disk. Pastikan juga komputer/laptop yang digunakan tersedia jaringan wi-fi atau ethernet yang terhubung ke internet. Tanpa koneksi internet, Chromium OS tidak akan dapat digunakan. Setelah proses boot selesai, user akan dihadapkan pada layar konfigurasi.
User akan dihadapkan pada pilihan bahasa, layout keyboard, dan jaringan yang akan dipakai. Saat pertama kali digunakan biasanya harus menunggu beberapa saat sampai jaringan bisa terdeteksi. Jika jaringan wi-fi membutuhkan password, maka harus diisikan lebih dahulu. Setelah sukses terhubung ke jaringan internet, maka akan berlanjut ke konfigurasi user, yang harus memasukkan nama akun dan password layanan Google (Gmail, YouTube, Blogger, Google+, Google Apps). Setelah sukses login, user bisa memilih avatar/gambar tampilan user sebelum masuk ke ChromiumOS.
Tampilan ChromiumOS adalah seperti gambar di atas, berupa satu window browser Chromium, dan pada bagian bawah layar sebelah kiri akan tampil beberapa shortcut/icon aplikasi web, sedangkan di sebelah kanan bawah ada tampilan waktu, indikator jaringan, daya, dan avatar pengguna. Jika window browser dimaksimalkan, maka seluruh layar akan dipakai, menutupi icon dan indikator di bawah layar. Semua aplikasi Chromium OS berjalan di dalam tab browser, termasuk terminal/command prompt dan explorer. Secara umum, menggunakan ChromiumOS mirip dengan menggunakan browser Chrome. ChromiumOS mendukung ekstensi, namun sayangnya belum mendukung Flash Plugin dan mp3 yang kemungkinan disebabkan oleh sifat ChromiumOS sebagai proyek open source, tidak seperti ChromeOS yang dipakai di Chromebooks yang didukung secara resmi oleh Google. Pada laptop HP Pavillion dv6 yang digunakan Penulis, ChromiumOS berjalan lancar dan mendukung semua periferal seperti touchpad, wi-fi, dan suara. Sebelumnya, saat dicoba di netbook Dell Inspiron Mini 10, adapter wi-fi yang ada tidak dapat digunakan/tidak terdeteksi. Tulisan ini juga dibuat dari ChromiumOS.
Akhir kata, Chromium OS ini cukup memadai bagi yang hanya menggunakan komputer/laptop untuk menjelajah internet dan hanya menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis web, seperti webmail, social networking, online storage, dan online application (Google Docs, Office 365, Zoho). ChromiumOS ini juga akan diperbarui secara otomatis seperti browser Chrome. Kelemahan terbesar ChromiumOS adalah penggunaannya mutlak harus terhubung ke internet, sehingga kurang fleksibel, dan dukungan perangkat kerasnya masih perlu ditingkatkan lagi agar bisa digunakan pada semua produk komputer/laptop yang ada di pasaran.
Canonical baru-baru ini meluncurkan Ubuntu for Android, yang menimbulkan banyak pertanyaan seputar “wujud mahluk seperti apakah gerangan ini”. Pada prinsipnya, Ubuntu for Android adalah tampilan desktop Ubuntu (Unity) yang berjalan di atas kernel Android (yang nota bene adalah kernel Linux). Muncul pertanyaan berikutnya: Mana muat satu desktop Ubuntu dalam layar ponsel pintar (smartphone) Android yang kecil itu? Ternyata, tampilan desktop Ubuntu (Unity) itu bukan dalam smartphonenya saat dibawa-bawa. Lengkapnya, Ubuntu for Android adalah tampilan desktop Ubuntu (Unity) di atas kernel Android (Linux) dalam kondisi smartphone terparkir (docked) dan terhubung ke perangkat keyboard, mouse, dan monitor. Jadi, smartphone berperan sebagai CPU dalam konfigurasi PC standar.
Ubuntu for Android (www.ubuntu.com)
Lalu, apa hebatnya? bayangkan bahwa smartphone Anda sebagai komputer portabel atau komputer saku, yang mungkin tidak sepenuhnya portabel seperti laptop, namun cukup mendekati. Semua data (kontak, pesan, e-mail, jejaring sosial) dalam smartphone akan langsung dapat diakses dari desktop Ubuntu saat terparkir, bahkan sesi jelajah (browsing) internet di smartphone Android Anda akan langsung berpindah ke browser desktop Ubuntu. Tergantung dari kekuatan komputasi smartphone Android Anda, aplikasi perkantoran (Office) pun bisa dijalankan dalam desktop Ubuntu. Sebuah video dari situs Engadget (berbahasa Inggris) memperlihatkan sekilas demonstrasi Ubuntu for Android ini menggunakan smartphone Motorola Atrix.
Konsep Ubuntu for Android ini nampaknya mulai menampakkan kecenderungan di masa yang akan datang batas antara perangkat komputasi dan komunikasi akan semakin mengabur. Begitu juga dengan sistem perangkat lunak yang berjalan di dalamnya. Tanda-tandanya mulai nampak: Microsoft dengan Windows 8 mulai memasukkan tampilan ala Windows Phone 7 dan bisa dijalankan di atas platform ARM (yang biasa digunakan untuk perangkat portabel, handphone dan tablet), Apple juga (konon) bersiap untuk mengintegrasikan MacOS dan iOS, dan akhirnya Google dengan Androidnya yang berbasis Linux, yang pada dasarnya sudah bisa dijalankan di semua platform. Akankah ini menjadi kenyataan, masih harus ditunggu kelanjutannya.
Layanan aplikasi web gratis, DreamHost Apps, yang menyediakan lima aplikasi web: Drupal, WordPress, Phpbb, ZenPhoto, dan MediaWiki secara gratis, akan segera ditutup pada 19 Maret 2012. Para penggunanya dipersilakan untuk berganti layanan menjadi berbayar, atau memindahkan data aplikasinya menggunakan layanan backup yang tersedia pada Panel Kontrol masing-masing aplikasi. Database aplikasi akan diarsipkan, dan setelah siap akan dikirimkan link untuk mengunduhnya.
Tampilan DreamHostApps
Windows 8, sistem operasi terbaru dari Microsoft memang belum resmi diluncurkan, namun banyak perubahan revolusioner yang dilakukan yang memancing diskusi hangat di kalangan pemerhati teknologi informasi. Versi Developer Preview dari Windows 8 yang dapat diunduh secara gratis memperkenalkan banyak perubahan dalam tampilan dan pengembangan aplikasi Windows. Yang paling mencolok adalah tampilan antarmuka pengguna yang berbasis pada Windows Phone 7, yang dikenal dengan nama Tiles. Tampilan ini mengacu pada [ponsel pintar (smartphone) dan tablet dengan layar sentuh, dengan Tiles yang menggabungkan fungsi icon, widget, dan dock/taskbar dalam satu bentuk menyerupai "mosaik" atau "ubin" berbentuk persegi panjang (kotak). Menurut gosip terbaru, tombol Start pada Windows 8 akan dihilangkan, digantikan semacam "hotspot" di sudut kiri atas layar.
Tampilan Baru Windows 8 (Developer Preview)
Perubahan lain yang mengiringi tampilan baru Windows 8 adalah dalam pengembangan aplikasi. Untuk mendukung tampilan Tiles dan integrasi dengan perangkat seperti ponsel, tablet, dan konsol permainan, Microsoft memperkenalkan standar pemrograman baru yang disebut Metro. Perubahan standar pemrograman ini diperlukan untuk membuat aplikasi dapat berjalan pada platform Intel (x86) dan ARM. Nantinya, aplikasi berbasis Metro hanya bisa didistribusikan lewat Windows Store, semacam Apple AppStore.
Untuk Windows 8, Microsoft juga akan memperkenalkan logo baru, yang jauh berbeda dengan logo Windows yang kita selama ini. Jika logo Windows sekarang menyerupai bentuk bendera empat warna, yang ber-evolusi sejak Windows versi 3.1, logo baru dirancang berbentuk seperti jendela (surprise!) dengan warna biru langit. Bentuk logo baru ini mengingatkan pada logo Windows versi 1.0.
Logo Baru Microsoft Windows 8
Kontroversi seputar rencana peluncuran Windows 8 mulai menyeruak, terutama seputar penggunaan teknologi SecureBoot. Teknologi ini akan ditanamkan pada perangkat keras yang berfungsi untuk mengunci sistem PC agar hanya memuat sistem operasi yang tersertifikasi. Dikhawatirkan, penggunaan SecureBoot akan menghalangi pengguna untuk mengganti atau memasang sistem operasi non-Microsoft atau sistem operasi bebas/terbuka seperti Linux. Lebih lanjut, pengenalan Metro dan Windows Store akan membatasi peran vendor perangkat lunak pihak ketiga. Semua aplikasi berbasis Metro hanya dapat didistribusikan lewat Windows Store dari Microsoft, yang dikhawatirkan akan mematikan pengembangan aplikasi pihak ketiga di masa datang.
Situs ini bertujuan untuk mengumpulkan semua situs karya Imam Indra Prayudi yang gentayangan di internet
This site is meant to collect all websites created by Imam Indra Prayudi