Feed aggregator

Mengenang Scatman John (1942-1999)

Lawnosta-B - Mon, 07/12/2021 - 06:55
Kalau di Indonesia kita mengenal Mbah Surip, seorang seniman/musisi yang terkenal di usia lanjut, dan kemudian meninggal dunia, di dunia internasional kita mengenal seorang Scatman John, seorang pianis jazz yang sukses sebagai “rapper” atau tepatnya scat singer. Bernama asli John Paul Larkin, ia mengawali kariernya sebagai pianis jazz di tahun 70-an dan 80-an. Album solo […]

Memperkenalkan: Windows 11

ad-12 Blog - Fri, 06/25/2021 - 14:11

Setelah menjadi topik hangat selama bulan ini, akhirnya Microsoft secara resmi memperkenalkan versi terbaru sistem operasi andalannya, Windows 11. Setelah Mirosoft sibuk meyakinkan para pengguna Windows 7 (dan 8) untuk migrasi ke Windows 10 karena versi ini disebut-sebut sebagai versi ‘paripurna’, kenyataan berbicara lain. Selama lima tahun keberadaannya, Windows 10 telah mengalami sepuluh kali pembaruan “versi” sejak versi pertama (1511) hingga versi terkini (21H1). Bisa dikatakan bahwa Microsoft benar-benar menganggap Windows 11 ini jauh berbeda daripada Windows 10 sehingga membutuhkan brand baru yang bukan sekadar perbaikan dari Windows 10.

Tampilan Desktop Windows 11 (Sumber: blogs.windows.com)

Banyak perubahan yang diumumkan mulai dari tampilan hingga aplikasi. Dari gambar di atas, terlihat bahwa taskbar dan start menu mengalami perubahan yang cukup mendasar. Posisi tombol Start bergeser ke tengah (a la macOS) dan Start Menu juga mengalami perubahan tata letak dan tampilan dengan menghilangkan Live Tiles yang menjadi ciri khas sejak Windows 8, Search diletakkan di atas, Pinned Apps di bawahnya dan Recommended di bawahnya. WIndows 11 juga menandai kembalinya Widgets, yang pertama (dan terakhir) kali hadir di Windows Vista. Perubahan lain termasuk “menghilangnya” sejumlah aplikasi yang biasa Anda temui pada instalasi default Windows 10 di antaranya: Notepad, Paint 3D, 3D Viewer, dan Skype. Khusus untuk Skype, Microsoft menggantikannya dengan Teams, yang akan terpasang pada setiap instalasi default Windows 11.

Aplikasi Android di Windows 111 via Amazon Appstore

Namun sebenarnya hal paling menarik dari kehadiran Windows 11 adalah perubahan pada distribusi aplikasi seiring perbaikan pada Microsoft Store. Ditambah lagi, kerja sama Microsoft dengan Intel (Bridge) dan Amazon (Appstore) akan menghadirkan aplikasi Android di Windows 11!

Windows 11 akan tersedia sebagai pembaruan gratis untuk setiap instalasi Windows 10 yang memenuhi syarat. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah spesifikasi sistem yang jauh berbeda dari versi-versi Windows sebelumnya, yaitu:

  • Prosesor 64-bit berkecepatan 1 GHz ke atas dengan dua core atau lebih
  • Memory (RAM) 4 GB atau lebih
  • Kapasitas penyimpanan (storage) 64 GB atau lebih
  • Display card yang mendukung DirectX 12/WDDM 2
  • Layar tampilan 9 inci ke atas dengan resolusi HD (720p)
  • UEFI/secure boot
  • TPM versi 2.0

Persyaratan terakhir ini mungkin menjadi yang mengganjal banyak sistem yang sebelumnya mampu menjalankan Windows 10, namun dinyatakan tidak mendukung Windows 11. Anda bisa mengecek kesiapan sistem Anda menjalankan Windows 11 dengan mengunduh aplikasi PC Health Check dari situs Windows 11. Setelah mengunduh dan memasangnya, Anda tinggal menjalankan pengujian sistem dengan menekan tombol Check Now pada bagian Introducing Windows 11. Jika sukses, akan muncul tampilan seperti di bawah ini:

Tampilan PC Health Check

Jika muncul tampilan yang menyatakan sistem (PC) Anda tidak bisa menjalankan Windows 11 meskipun spesifikasinya lumayan bagus, cobalah mengecek versi TPM anda dengan menjalankan tpm.msc pada Run (tekan tombol Windows+R) atau ketikkan tpm pada field Search dan pilih Security Processor. Pastikan Specification Versionnya adalah 2.0. Jika versi yang tercantum adalah di bawah 2.0, maka itulah penyebab sistem Anda dinyatakan tidak bisa menjalalankan Windows 11.

Tampilan tpm.msc (TPM Management Console) Tampilan Security Processor

Jadi, apakah Anda tengah menantikan kehadiran Windows 11 yang dijanjikan akan mulai dirilis akhir tahun ini? Microsoft menjanjikan Windows 10 masih akan didukung hingga tahun 2025, namun bagaimana selanjutnya untuk sistem yang tidak memenuhi syarat?

Mengenal Macam-macam Set-top Box

ad-12 Blog - Sun, 04/25/2021 - 17:31

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin membahas mengenai Set-top Box (STB). Menjelang migrasi ke TV digital, STB menjadi barang “panas” karena menjadi syarat utama bagi pemilik TV analog (tanpa built-in DVB-T2 tuner) untuk bisa menyaksikan siaran TV digital pasca Analog Switch-off bulan November 2022. Di sisi lain, istilah Set-top box bukan hanya diperuntukkan perangkat tuner DVB-T2, namun secara umum mencakup berbagai perangkat yang dihubungkan ke televisi untuk menerima siaran, baik itu dari antena biasa (terestrial), antena parabola (satellite dish), cable, atau bahkan jaringan internet (IPTV/OTT/Streaming). Di pasaran tersedia bermacam-macam set-to box, kadang-kadang tanpa mencantumkan spesifikasi yang jelas. Harga yang ditawarkan berkisar antara 200 hingga di atas 500 ribu rupiah. Jika itu belum cukup membingungkan, silakan menelusuri spesifikasi televisi LCD/LED saat ini. Ada istilah TV digital/analog, kualitas gambar mulai HD, FHD, UHD, 4K, istilah Smart TV dengan berbagai system, dan juga ketersediaan konektor (AV, RCA, USB, atau HDMI). Sebagai patokan umum, koneksi set-top box ke televisi umumnya bisa menggunakan salah satu jenis koneksi, RCA (tiga konektor) atau HDMI (satu konektor). Berikut ini akan Penulis jelaskan tiga jenis set-top box yang umum ada di pasaran.

  1. STB DVB-T2 (TV Terrestrial/UHF)
    Set-top box jenis inilah yang akhir-akhir ini banyak dibahas sehubungan dengan transisi dari TV analog ke TV digital. STB ini berfungsi untuk menangkap sinyal TV digital agar bisa ditampilkan di pesawat televisi yang belum memiliki tuner digital. STB ini (harus) mendukung teknologi DVB-T2 (Digital Video Broadcasting – Terrestrial version 2), pastikan ada tulisan di bodi STB jenis ini. STB ini dikoneksikan ke antena televisi biasa (UHF) yang sudah Anda miliki, kemudian dikoneksikan ke pesawat televisi menggunakan kabel RCA (tiga konektor, merah, putih, kuning) atau HDMI (satu konektor berbentuk segienam), disesuaikan dengan ketersediaan kabel dan konektor. Jadi, selain logo DVB-T2, jenis konektor input pada STB ini adalah konektor antena UHF di belakangnya.
  2. STB DVB-S2 (TV Satelit/Parabola)
    Set-top box jenis ini digunakan untuk menerima siaran dari TV satelit, baik gratis maupun berbayar. STB jenis ini mungkin bisa tertular dengan STB jenis di atas karena tampilannya yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Perbedaannya adalah tampilan logo DVB-S2 (Digital Video Broadcasting – Satellite version 2) dan konektor antena di belakangnya yang identik dengan koneksi pada TV kabel (menggunakan ulir).
  3. STB Android Box (SmartTV)
    Set-top box jenis ini pada dasarnya adalah sebuah device serupa komputer dengan sistem operasi yang terhubung ke internet. Di atas sistem operasi ini bisa dipasang aplikasi untuk mengakses layanan OTT atau streaming layaknya smartphone/tablet/smart TV. Sistem operasi yang dipakai umumnya adalah Android, dengan akses ke Google Play Store kita bisa memasang aplikasi seperti Netflix, Disney+, Vidio, YouTube, Spotify, VIU, dan banyak lagi. Tentu saja masing-masing aplikasi itu punya ketentuan masing-masing, ada konten yang bisa diakses langsung, membutuhkan registrasi, atau membutuhkan biaya tambahan berupa berlangganan (subscribe) dan biaya lainnya (rental fee). STB jenis ini biasanya sudah ditanamkan penerima sinyal wi-fi ditambah koneksi RJ-45 (ethernet) untuk koneksi ke router internet via kabel UTP.

Selain ketiga jenis STB di atas, ada juga jenis STB untuk TV kabel, dengan teknologi DVB-C2 (Digital Video Broadcasting – Cable version 2), namun jenis ini biasanya tidak diperjualbelikan secara bebas karena TV kabel umumnya berbayar, sehingga STB jenis ini di-bundle dengan layanan TV kabel seperti First Media, IndiHome, atau MNC Play. Kemudian, ada juga STB Hybrid, yaitu yang mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari dua sumber, terestrial dan satelit (atau juga dari internet). Jenis ini tidak banyak pilihannya, berguna jika kita memiliki dua jenis antena penerima (UHF/parabola) untuk menghemat koneksi ke pesawat televisi. Perhatikan juga bahwa STB jenis 1 dan 2 biasanya memiliki port USB untuk koneksi ke media penyimpanan (HDD/flashdisk) atau ke dongle wi-fi. Jika dihubungkan ke dongle wi-fi, maka STB bisa berfungsi layaknya smartTV box, tergantung aplikasi yang tersedia di firmwarenya. Kuncinya adalah pada jenis konektor yang tersedia pada STB tersebut.

Jim Steinman (1947 – 2021), Heaven Can’t Wait

Lawnosta-B - Sat, 04/24/2021 - 15:40
Now the bat is finally back into hell? of course, good girls (and men) go to heaven and bad girls (and men) go everywhere. James Richard Steinman, lebih dikenal dengan panggilan Jim, adalah musisi dan penulis lagu kelahiran New York, Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya “bombastis”. Melejit lewat album Bat Out of Hell (1977) […]

Diane Warren #1s Playlist

Lawnosta-B - Mon, 03/29/2021 - 05:09

LINE Merger dengan Yahoo?

ad-12 Blog - Thu, 03/25/2021 - 17:02

Selama ini kita mengenal Yahoo! sebagai layanan internet yang pernah berjaya di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, Yahoo! merajai layanan directory, search, news, e-mail, messaging, groups (mailing list), games, hingga free hosting (GeoCities), online bookmarks (delicious) dan photo sharing (Flickr). Namun, perlahan-lahan kejayaan itu surut hingga nyaris tak berbekas. Hari ini layanan Yahoo! yang tersisa hanyalah news dan e-mail. Sejak 2017, Yahoo! telah dijual ke Verizon, di bawah payung baru, Oath, bersama-sama brand seperti Aol., engadget, dan TechCrunch. Sementara, beberapa aset yang menguntungkan di-spinoff seperti Yahoo! Japan dan saham di Alibaba.com, dalam perusahaan yang disebut Altaba. LINE, berawal dari bencana alam gempa bumi dan tsunami di Jepang pada tahun 2011. Saat itu, hancurnya infrastruktur telekomunikasi memaksa teknisi NHN menggunakan internet untuk berkomunikasi. LINE kemudian tumbuh menjadi aplikasi messaging terpopuler di Jepang, juga di Taiwan dan Thailand dengan lebih dari 700 juta pengguna di seluruh dunia.

(Sumber: asia.nikkei.com)

Baru-baru ini beredar kabar bahwa Yahoo mengakuisisi LINE, sebenarnya apa yang terjadi? Jadi begini, Altaba sebagai pemilik Yahoo! Japan menjualnya kepada SoftBank, partner bisnisnya, di akhir tahun 2018. Altaba akhirnya menutup usahanya di tahun 2019 setelah menjual semua asetnya yang tersisa, termasuk sahamnya di Alibaba.com. SoftBank kemudian membentuk perusahaan baru bersama Naver corporation sebagai pemilik LINE, yang kemudian membawahi Yahoo! Japan dan LINE. Sampai hari ini Yahoo! Japan masih beroperasi dengan tampilan ala Yahoo! tahun 2000-an, dengan layanan yang sangat beragam.

What Have I Done to Deserve This?

Little-little Sih... I Can - Sat, 01/23/2021 - 13:23

 Nothing, really. In fact, I have done more than I should, sacrifice more than I could. And then, our of the blue, the winter is coming. No precautions, no warning signs, just the calm before the storm. I can take it, but maybe, the others can't, and deservedly so. Nowadays, loyalty means laziness, unwillingness to change, or rejection to move from one's comfort zone. Ever hear of an old saying that a captain never leaves the sinking ship? We make mistakes by assuming that we all are the captain of the ship. All this time we are trapped inside this bubble, while our ship is sinking, right into the ocean's bottom. Whether the ocean is red or blue doesn't matter now. We still hope the bubble will eventually floats, instead it cracks and blow suddenly before our eyes. It's too late to try to swim back up or try to find the saving device. 

It's 20-21, or just 11-12?

Little-little Sih... I Can - Tue, 01/05/2021 - 07:39

 A new year, yet stay the same. No one expected 2020 to be so bleak. An outbreak with no end in sight, especially in this country, where the people safety is not the top priority. A completely wrong policy to handle the pandemi caused prolonged suffer. We become tired of limitations, while the disease spreads faster than ever. The national lockdown is not existed, local lockdowns are useless, and finally, we are left to our own devices. It' feels like a queue to the great beyond, we just wait for our turns to come, with no knowledge of where we stand. Well, at least we will get vaccination for free, right? Well, back to the queue my dear. There's no guarantee if we are going to make it. Hope time will prove me wrong.

Nine Years

Little-little Sih... I Can - Thu, 11/26/2020 - 16:23

 It's been nine years since my last step into the workplace. We've had some ups and downs, mostly downs these last years. At least, my work laptop can confirm it, along with the scratch and cracks on its body. This time, I celebrate it in isolation, considering the turmoil around. Going back in time, I remember having no expectation about my future, lest alone my career. And that's exactly what I get. A path that going nowhere and question marks in every turn of the track. Here's to another nine years ahead.

Syndicate content