Feed aggregator

Mengenal Macam-macam Set-top Box

ad-12 Blog - Sun, 04/25/2021 - 17:31

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin membahas mengenai Set-top Box (STB). Menjelang migrasi ke TV digital, STB menjadi barang “panas” karena menjadi syarat utama bagi pemilik TV analog (tanpa built-in DVB-T2 tuner) untuk bisa menyaksikan siaran TV digital pasca Analog Switch-off bulan November 2022. Di sisi lain, istilah Set-top box bukan hanya diperuntukkan perangkat tuner DVB-T2, namun secara umum mencakup berbagai perangkat yang dihubungkan ke televisi untuk menerima siaran, baik itu dari antena biasa (terestrial), antena parabola (satellite dish), cable, atau bahkan jaringan internet (IPTV/OTT/Streaming). Di pasaran tersedia bermacam-macam set-to box, kadang-kadang tanpa mencantumkan spesifikasi yang jelas. Harga yang ditawarkan berkisar antara 200 hingga di atas 500 ribu rupiah. Jika itu belum cukup membingungkan, silakan menelusuri spesifikasi televisi LCD/LED saat ini. Ada istilah TV digital/analog, kualitas gambar mulai HD, FHD, UHD, 4K, istilah Smart TV dengan berbagai system, dan juga ketersediaan konektor (AV, RCA, USB, atau HDMI). Sebagai patokan umum, koneksi set-top box ke televisi umumnya bisa menggunakan salah satu jenis koneksi, RCA (tiga konektor) atau HDMI (satu konektor). Berikut ini akan Penulis jelaskan tiga jenis set-top box yang umum ada di pasaran.

  1. STB DVB-T2 (TV Terrestrial/UHF)
    Set-top box jenis inilah yang akhir-akhir ini banyak dibahas sehubungan dengan transisi dari TV analog ke TV digital. STB ini berfungsi untuk menangkap sinyal TV digital agar bisa ditampilkan di pesawat televisi yang belum memiliki tuner digital. STB ini (harus) mendukung teknologi DVB-T2 (Digital Video Broadcasting – Terrestrial version 2), pastikan ada tulisan di bodi STB jenis ini. STB ini dikoneksikan ke antena televisi biasa (UHF) yang sudah Anda miliki, kemudian dikoneksikan ke pesawat televisi menggunakan kabel RCA (tiga konektor, merah, putih, kuning) atau HDMI (satu konektor berbentuk segienam), disesuaikan dengan ketersediaan kabel dan konektor. Jadi, selain logo DVB-T2, jenis konektor input pada STB ini adalah konektor antena UHF di belakangnya.
  2. STB DVB-S2 (TV Satelit/Parabola)
    Set-top box jenis ini digunakan untuk menerima siaran dari TV satelit, baik gratis maupun berbayar. STB jenis ini mungkin bisa tertular dengan STB jenis di atas karena tampilannya yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Perbedaannya adalah tampilan logo DVB-S2 (Digital Video Broadcasting – Satellite version 2) dan konektor antena di belakangnya yang identik dengan koneksi pada TV kabel (menggunakan ulir).
  3. STB Android Box (SmartTV)
    Set-top box jenis ini pada dasarnya adalah sebuah device serupa komputer dengan sistem operasi yang terhubung ke internet. Di atas sistem operasi ini bisa dipasang aplikasi untuk mengakses layanan OTT atau streaming layaknya smartphone/tablet/smart TV. Sistem operasi yang dipakai umumnya adalah Android, dengan akses ke Google Play Store kita bisa memasang aplikasi seperti Netflix, Disney+, Vidio, YouTube, Spotify, VIU, dan banyak lagi. Tentu saja masing-masing aplikasi itu punya ketentuan masing-masing, ada konten yang bisa diakses langsung, membutuhkan registrasi, atau membutuhkan biaya tambahan berupa berlangganan (subscribe) dan biaya lainnya (rental fee). STB jenis ini biasanya sudah ditanamkan penerima sinyal wi-fi ditambah koneksi RJ-45 (ethernet) untuk koneksi ke router internet via kabel UTP.

Selain ketiga jenis STB di atas, ada juga jenis STB untuk TV kabel, dengan teknologi DVB-C2 (Digital Video Broadcasting – Cable version 2), namun jenis ini biasanya tidak diperjualbelikan secara bebas karena TV kabel umumnya berbayar, sehingga STB jenis ini di-bundle dengan layanan TV kabel seperti First Media, IndiHome, atau MNC Play. Kemudian, ada juga STB Hybrid, yaitu yang mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari dua sumber, terestrial dan satelit (atau juga dari internet). Jenis ini tidak banyak pilihannya, berguna jika kita memiliki dua jenis antena penerima (UHF/parabola) untuk menghemat koneksi ke pesawat televisi. Perhatikan juga bahwa STB jenis 1 dan 2 biasanya memiliki port USB untuk koneksi ke media penyimpanan (HDD/flashdisk) atau ke dongle wi-fi. Jika dihubungkan ke dongle wi-fi, maka STB bisa berfungsi layaknya smartTV box, tergantung aplikasi yang tersedia di firmwarenya. Kuncinya adalah pada jenis konektor yang tersedia pada STB tersebut.

Jim Steinman (1947 – 2021), Heaven Can’t Wait

Lawnosta-B - Sat, 04/24/2021 - 15:40
Now the bat is finally back into hell? of course, good girls (and men) go to heaven and bad girls (and men) go everywhere. James Richard Steinman, lebih dikenal dengan panggilan Jim, adalah musisi dan penulis lagu kelahiran New York, Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya “bombastis”. Melejit lewat album Bat Out of Hell (1977) […]

Diane Warren #1s Playlist

Lawnosta-B - Mon, 03/29/2021 - 05:09

LINE Merger dengan Yahoo?

ad-12 Blog - Thu, 03/25/2021 - 17:02

Selama ini kita mengenal Yahoo! sebagai layanan internet yang pernah berjaya di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, Yahoo! merajai layanan directory, search, news, e-mail, messaging, groups (mailing list), games, hingga free hosting (GeoCities), online bookmarks (delicious) dan photo sharing (Flickr). Namun, perlahan-lahan kejayaan itu surut hingga nyaris tak berbekas. Hari ini layanan Yahoo! yang tersisa hanyalah news dan e-mail. Sejak 2017, Yahoo! telah dijual ke Verizon, di bawah payung baru, Oath, bersama-sama brand seperti Aol., engadget, dan TechCrunch. Sementara, beberapa aset yang menguntungkan di-spinoff seperti Yahoo! Japan dan saham di Alibaba.com, dalam perusahaan yang disebut Altaba. LINE, berawal dari bencana alam gempa bumi dan tsunami di Jepang pada tahun 2011. Saat itu, hancurnya infrastruktur telekomunikasi memaksa teknisi NHN menggunakan internet untuk berkomunikasi. LINE kemudian tumbuh menjadi aplikasi messaging terpopuler di Jepang, juga di Taiwan dan Thailand dengan lebih dari 700 juta pengguna di seluruh dunia.

(Sumber: asia.nikkei.com)

Baru-baru ini beredar kabar bahwa Yahoo mengakuisisi LINE, sebenarnya apa yang terjadi? Jadi begini, Altaba sebagai pemilik Yahoo! Japan menjualnya kepada SoftBank, partner bisnisnya, di akhir tahun 2018. Altaba akhirnya menutup usahanya di tahun 2019 setelah menjual semua asetnya yang tersisa, termasuk sahamnya di Alibaba.com. SoftBank kemudian membentuk perusahaan baru bersama Naver corporation sebagai pemilik LINE, yang kemudian membawahi Yahoo! Japan dan LINE. Sampai hari ini Yahoo! Japan masih beroperasi dengan tampilan ala Yahoo! tahun 2000-an, dengan layanan yang sangat beragam.

Lou Ottens, Penemu Kaset (dan CD) Meninggal Dunia

Lawnosta-B - Wed, 03/17/2021 - 14:29
Mungkin tidak banyak yang memperhatikan saat kabar ini pertama menyebar. Lodewijk Frederik Ottens, seorang engineer di perusahaan elektronik Philips, meninggal dunia pada 6 Maret 2021 di usia 94 tahun. Lou Ottens dilahirkan di Bellingwolde pada tahun 1926 dan sangat menggemari elektronik sejak muda. Saat pendudukan Jerman di Perang Dunia II, ia merakit radio sendiri untuk […]

Lawnosta Playlist: Bee Gees Covers

Lawnosta-B - Tue, 01/26/2021 - 13:25
How Can You Mend a Broken Heart? (Al Green, 1972)

What Have I Done to Deserve This?

Little-little Sih... I Can - Sat, 01/23/2021 - 13:23

 Nothing, really. In fact, I have done more than I should, sacrifice more than I could. And then, our of the blue, the winter is coming. No precautions, no warning signs, just the calm before the storm. I can take it, but maybe, the others can't, and deservedly so. Nowadays, loyalty means laziness, unwillingness to change, or rejection to move from one's comfort zone. Ever hear of an old saying that a captain never leaves the sinking ship? We make mistakes by assuming that we all are the captain of the ship. All this time we are trapped inside this bubble, while our ship is sinking, right into the ocean's bottom. Whether the ocean is red or blue doesn't matter now. We still hope the bubble will eventually floats, instead it cracks and blow suddenly before our eyes. It's too late to try to swim back up or try to find the saving device. 

It's 20-21, or just 11-12?

Little-little Sih... I Can - Tue, 01/05/2021 - 07:39

 A new year, yet stay the same. No one expected 2020 to be so bleak. An outbreak with no end in sight, especially in this country, where the people safety is not the top priority. A completely wrong policy to handle the pandemi caused prolonged suffer. We become tired of limitations, while the disease spreads faster than ever. The national lockdown is not existed, local lockdowns are useless, and finally, we are left to our own devices. It' feels like a queue to the great beyond, we just wait for our turns to come, with no knowledge of where we stand. Well, at least we will get vaccination for free, right? Well, back to the queue my dear. There's no guarantee if we are going to make it. Hope time will prove me wrong.

Selamat Datang (Kembali?) TV Digital

ad-12 Blog - Tue, 01/05/2021 - 06:52

Salah satu isu yang sering muncul (dan tenggelam lagi) adalah migrasi penyiaran TV dari analog ke digital. Menariknya, isu ini jarang muncul di pemberitaan TV! Akibatnya, persepsi masyarakat umum menjadi simpang siur, apakah TV digital ini, bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital, channel TV mana saja yang tersedia, berbayarkah siaran TV digital, perbandingannya dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming), dan kapan tepatnya peralihan ini dilakukan. Di bawah ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan coba dibahas satu per satu.

(source: https://says.com/my)
  1. Apakah TV Digital itu?
    • TV digital adalah sistem penyiaran televisi menggunakan sistem digital encoding. Siaran televisi tidak lagi menggunakan sinyal analog pada frekuensi tertentu, namun dengan mengirimkan bit-bit terkompresi (menggunakan teknologi MPEG-2/MPEG-4) sehingga satu frekuensi bisa digunakan lebih dari satu channel. Sistem penyiaran TV digital yang digunakan adalah DVB-T2 (Digital Video Broadcasting Terrestrial 2)
  2. Bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital?
    • Perangkat yang dibutuhkan adalah tuner yang mendukung teknologi DVB-T2. Jika kita memiliki/membeli TV keluaran terbaru, kemungkinan perangkat itu sudah memiliki tuner DVB-T2 built-in. Jika Anda memiliki TV keluaran lama, Anda membutuhkan perangkat tambahan berupa set-top box (STB) yang mendukung teknologi DVB-T2. Siaran TV digital menggunakan frekuensi UHF, sama dengan TV analog, sehingga Anda tidak perlu mengganti antena TV yang sudah ada.
  3. Apakah keunggulannya dibandingkan dengan TV analog?
    • Selain penggunaan frekuensi yang lebih efisien, channel yang tersedia lebih banyak, siaran TV digital ini lebih bagus kualitas gambar dan suaranya dibandingkan dengan siaran TV analog. Sebagai perbandingan. kualitas TV analog setara dengan VCD, maka siaran TV digital (Standard Definition) minimal setara dengan DVD, sementara siaran TV digital HD (High definition) setara dengan Blu-Ray. Perbedaan yang paling jelas terlihat, siaran TV analog akan menampilkan pola moire (semut) saat (penerimaan) sinyal kurang kuat, siaran digital akan pause, tampak pola kotak-kotak (mosaik), atau bahkan langsung menghilang saat penerimaan sinyal kurang kuat.
  4. Channel mana saja yang tersedia?
    • Meskipun belum resmi, sejumlah stasiun TV selama ini sudah melakukan siaran digital, meskipun terbatas di area tertentu. Sejumlah stasiun TV juga sempat menghentikan siarannya atau berpindah ke mux/frekuensi lain. Di bawah ini adalah daftar siaran TV digital untuk area Jabodetabek per April 2021, harap diingat bahwa penambahan atau pengurangan channel bisa terjadi sewaktu-waktu.
      1. mux 24 (498 Mhz): SCTV, Indosiar, O-Channel, Mentari TV
      2. mux 32 (562 MHz): MetroTV, MetroTV HD, MagnaTV, BNTV, BBSTV, UGTV, JawaPosTV, MyTV
      3. mux 34 (578 MHz): antv, tvOne, SportOne, JAKTV
      4. mux 36 (594 MHz): Berita Satu, Berita Satu World, Berita Satu English
      5. mux 40 (626 MHz): TransTV, Trans7, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, KompasTV, GramediaTV, KTV
      6. mux 42 (642 MHz): TVRI Nasional, TVRI DKI, TVRI 3, TVRI Sports HD, TVMu, NusantaraTV, DAAITV, TempoTV, InspiraTV, BadarTV, KompasTV, GramediaTV, MMITV, OpusTV
      7. mux 44 (658 MHz): RCTI, MNCTV, GTV, iNews
      8. mux 48 (690 MHz): rtv-1 HD, rtv-2 HD
  5. Apakah TV digital ini berbayar?
    • Tidak, siaran ini bisa disaksikan scara gratis (FTA/Free to Air) seperti halnya TV analog, asalkan Anda memiliki perangkat DVB-T2 dan siaran tersedia untuk area sekitar.
  6. Bagaimana perbandingan TV digital dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming)?
    • TV Analog: sama-sama gratis (FTA), hanya sistem penyiaran berbeda
    • TV satelit/parabola: tersedia siaran gratis dan berbayar serta membutuhkan perangkat antena (parabola/satellite dish) dan receiver (DVB-S2)
    • TV kabel: umumnya berbayar dan membutuhkan koneksi kabel (coaxial/fiber) dan dekoder
    • IPTV/OTT/Video Streaming:tersedia layanan gratis dan berbayar serta membutuhkan koneksi internet dan bisa diakses menggunakan smartphone, PC/laptop, SmartTV, atau STB
  7. Kapan migrasi ke TV digital ini dilakukan?

Gerry Marsden (1942 – 2021)

Lawnosta-B - Mon, 01/04/2021 - 04:19
Well, untuk mengawali tahun 2021 ini, satu lagi kabar duka dalam dunia musik dengan meninggalnya musisi Gerry Marsden. Ia mungkin tidak begitu dikenal di Indonesia, begitu pula band yang didirikannya di tahun 60-an, Gerry and the Pacemakers. Namun, saat Anda menyebut lagu You’ll Never Walk Alone, hampir semua orang terutama pemerhati sepak bola, khususnya fan […]

Nine Years

Little-little Sih... I Can - Thu, 11/26/2020 - 16:23

 It's been nine years since my last step into the workplace. We've had some ups and downs, mostly downs these last years. At least, my work laptop can confirm it, along with the scratch and cracks on its body. This time, I celebrate it in isolation, considering the turmoil around. Going back in time, I remember having no expectation about my future, lest alone my career. And that's exactly what I get. A path that going nowhere and question marks in every turn of the track. Here's to another nine years ahead.

Syndicate content