ad-12 Blog

Syndicate content ad-12 Labs
Because I Can't Become Somebody Else
Updated: 4 weeks 1 day ago

Bolt Ditutup, Pelanggan Dialihkan ke Smartfren

Thu, 01/03/2019 - 04:17

(Sumber: bolt.id)

Setelah ramai berpolemik melawan Kementrian Kominfo, akhirnya layanan Bolt ditutup terhitung 28 Desember 2018. Penyebabnya adalah tunggakan pembayaran pemakaian frekuensi 2300 MHz selama tiga tahun oleh operator Internux dan First Media. Sempat menimbulkan kebingungan  bagi pengguna layanan internet kabel First Media, yang dioperasikan oleh perusahaan yang berbeda (LinkNet) dan tentu saja tidak memerlukan frekuensi, apalagi bayar lisensi.

Sementara itu, para pelanggan setia Bolt harus menghadapi kenyataan pahit dengan penghentian layanan ini. Untungnya, mereka diberikan pilihan, antara pengembalian pulsa/kuota (refund) atau pengalihan layanan ke Smartfren atau internet kabel First Media. Pelanggan yang memilih beralih ke Smartfren bisa melakukan verifikasi di Bolt Zone untuk mendapatkan kartu perdana Smartfren, sementara pelanggan Bolt Home yang berada dalam cakupan layanan internet kabel First Media bisa beralih ke layanan tersebut dengan penawaran khusus. Pengalihan ke Smartfren dilakukan karena keduanya sama-sama menggunakan frekuensi 2300 MHz.

Microsoft Edge Akan Berbasis Chromium?

Tue, 12/11/2018 - 10:56

Pada awal kelahiran World Wide Web (WWW) yang kemudian menjadi identik dengan “internet” bagi masyarakat luas, browser web yang populer saat itu adalah Mosaic dari NCSA. Kode sumber Mosaic kemudian dimodifikasi dan dirilis sebagai produk komersial bernama Netscape, yang kemudian menggantikan posisi Mosaic sebagai browser web paling dominan. Microsoft kemudian melisensi kode sumber Mosaic dari SpyGlass, memodifikasinya dan merilisnya sebagai Internet Explorer. Persaingan antara Netscape dan Internet Explorer dikenal sebagai “browser war” yang berakhir dengan “kemenangan” Internet Explorer saat Netscape diakuisisi oleh AOL dan menghentikan rilis browsernya di tahun 2000. Namun demikian, proyek Mozilla melanjutkan pengembangan browser Netscape sampai rilis browser Mozilla Firefox di tahun 2004. Posisi Internet Explorer sebagai browser web paling dominan kini pun telah tergeser oleh Google Chrome. Pengembangan Internet Explorer pun telah dihentikan sejak dirilisnya Windows 10 di tahun 2015, yang menggunakan browser web baru bernama Edge sebagai aplikasi browser standarnya.

(Sumber: TechCrunch)

Dulu, aplikasi browser web dikembangkan sebagai satu paket lengkap, secara sederhana bisa dipisahkan menjadi tampilan dan engine (backend). Engine dari Internet Explorer disebut Trident, untuk Firefox disebut Gecko, untuk Opera disebut Presto, dan untuk Safari/Chrome disebut WebKit. Dalam perkembangannya, aplikasi browser web dikembangkan secara terbuka (open source), dengan komponen-komponennya dapat digunakan secara terpisah. WebKit, sebagai contoh, mula-mula dikembangkan oleh Apple dari fork engine KHTML yang digunakan proyek KDE untuk browser Konqueror. Google kemudian mengadopsi WebKit untuk browser Chromium (open source) yang kemudian dikemas dengan sejumlah komponen closed source sebagai Chrome. Pada akhirnya, Google melakukan fork pada WebKit dan mengembangkannya sebagai Blink. Untuk Edge, Microsoft menggunakan engine baru yang disebut EdgeHTML. Opera pun telah beralih menggunakan Blink, sedangkan Mozilla mengembangkan engine baru yang disebut Quantum untuk versi terbaru Firefox.

Baru-baru ini, Microsoft mengumumkan perubahan pada pengembangan browser Microsoft Edge. Perubahan terbesar adalah penggunaan Chromium sebagai basis, menggantikan tampilan UWP (Metro) plus engine EdgeHTML. Nampaknya, popularitas Edge yang tak kunjung membaik menjadi penyebabnya. Edge versi baru juga akan mendukung Windows selain versi 10 (Windows 7 dan 8), macOS, dan juga mendukung ekstensi Chrome.

Flickr Dibeli SmugMug, Dibatasi Hanya 1000 File

Wed, 11/07/2018 - 06:05

Sebelum Instagram, kita mengenal Flickr sebagai situs untuk berbagi foto (digital). Didirikan oleh Ludicorp di tahun 2004, Flickr menjadi salah satu situs internet terpopuler saat itu. Popularitas Flickr menarik perhatian Yahoo! yang kemudian mengakuisisinya di tahun 2005, yang berdampak pada ditutupnya layanan Yahoo! Photos di tahun 2007. Di tahun yang sama, Flickr mewajibkan penggunaan Yahoo! Mail untuk login, langkah yang banyak dikritik oleh pengguna setianya. Pada tahun 2013, Flickr menaikkan kapasitas penyimpanan untuk semua pengguna menjadi 1 Terabyte. Dalam perkembangannya, Flickr mulai kehilangan posisinya sebagai situs berbagi foto, terutama setelah semakin populernya situs seperti Facebook dan Instagram. Akhirnya saat Yahoo! dijual ke Verizon pada tahun 2017,  masa depan Flickr mulai dipertanyakan.

(Sumber: theverge.com)

Pada bulan April 2018, SmugMug membeli Flickr dari Oath (holding dari perusahaan digital di bawah Verizon seperti AOL dan Yahoo!). SmugMug sendiri adalah situs yang menawarkan layanan yang identik dengan Flickr (berbagi foto), namun ditujukan untuk kalangan profesional dan berbayar. Baru-baru ini, Flickr mengumumkan perubahan besar bagi pengguna layanan gratisnya. Jika sebelumnya semua pengguna Flickr mendapatkan kapasitas penyimpanan sebesar 1 Terabyte, terhitung awal Januari 2019 pengguna layanan gratis akan dibatasi sebanyak 1000 file/foto saja. Para pengguna layanan gratis yang saat ini menyimpan file/foto di atas 1000 disarankan untuk beralih ke layanan berbayar (Flickr Pro) dengan membayar US$ 50/tahun atau mengurangi jumlah file/foto yang disimpan di Flickr menjadi maksimal 1000 saja. Jika ini tidak dilakukan, maka terhitung Februari 2019 Flickr akan menghapus file/foto pada akun pengguna layanan gratis hingga tersisa 1000 file/foto, dimulai dari yang paling awal diunggah. Kebijakan ini pun tak ayal menuai kontroversi di kalangan pengguna Flickr. Di satu sisi, SmugMug sebagai pemilik baru Flickr nampaknya mulai kewalahan menangani kebutuhan media penyimpanan dan sumber daya jaringan, terutama biaya yang harus dibayar. Di sisi lain, tidak semua pengguna layanan gratis Flickr mau dan mampu beralih ke layanan berbayar. (Catatan: Akun milik Penulis sendiri, yang sudah berusia sekitar 11 tahunan, saat ini memiliki 4000-an foto, setengahnya bisa diakses publik). Belum lagi di antara akun gratisan Flickr ini terdapat pustaka foto/gambar dengan lisensi Common Creative yang banyal digunakan untuk kepentingan nonprofit.

IBM Segera Mengakuisisi Red Hat

Mon, 10/29/2018 - 09:52

Sebuah kabar besar dari dunia teknologi informasi, IBM akan mengakuisisi Red Hat senilai US$ 34 Miliar. Ini disebut-sebut sebagai akuisisi perusahaan perangkat lunak terbesar, mengalahkan akuisisi LinkedIn oleh Microsoft senilai US$ 26 Miliar. Dalam rilis pers resminya disebutkan bahwa IBM lebih menekankan pada bisnis cloud, tepatnya hybrid/multi cloud dari Red Hat. Meskipun demikian, reputasi Red Hat sebagai perusahaan berbasis open source (Linux) tetaplah tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, IBM juga banyak berperan dalam pengembangan open source dan juga Linux. Tentu saja, berita ini ditanggapi secara hati-hati di kalangan pegiat open source, terutama setelah pengalaman akuisisi SUSE oleh Novell dan Sun oleh Oracle. Belum lagi anekdot yang menyebutkan tentang tidak cocoknya identitas korporat IBM yang dikenal sebagai “The Big Blue” (biru) dengan Red Hat yang tentunya identik dengan warna merah!

(sumber: thurrott.com)

Java 11 Dirilis, Benarkah Tidak Gratis Lagi?

Fri, 10/05/2018 - 13:56

Oracle baru-baru ini merilis Java versi 11, sebagai kelanjutan versi 9 dan 10. Rilis kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena versi 11 ini dinyatakan sebagai LTS (Long Term Support). Sebagaimana diketahui, mulai versi 9, Java versi baru akan dirilis setiap enam bulan sekali, alih-alih tiga tahun seperti versi-versi sebelumnya (1 – 8). Perubahan juga terjadi pada dukungan. Jika Java (JDK/JRE) versi 1 – 8 didukung oleh Oracle (dan sebelumnya Sun) untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) gratis dan jangka panjang (LTS). Mulai versi 11, Java yang diunduh dari situs Oracle (java.sun.com) hanya didukung (gratis) untuk penggunaan pribadi (development). Untuk penggunaan komersial (production) Oracle akan mengenakan biaya, mirip dengan skema lisensi untuk produk Oracle lainnya seperti database, middleware, dan analytics (business intelligence).

(sumber: proglib.io)

Kabar baiknya, bagi yang belum mengetahui, bahwa Java (JDK) mulai versi 7 sebenarnya sudah dirilis secara open source dengan lisensi GPL dengan nama OpenJDK. Artinya, kode sumber Java bisa diakses oleh publik dan siapapun bisa merilis JDK dari kode tersebut. Oracle menggunakan kode OpenJDK untuk membuat Oracle JDK yang menjadi standar implementasi Java. Bagi pengguna Linux pun selama ini sudah bisa memanfaatkan OpenJDK yang dipaketkan oleh distro-distro seperti RedHat, Ubuntu, Debian, atau SUSE. Dukungan untuk OpenJDK di Linux pun langsung diterima dari vendor distro masing-masing. Selama ini pun, sudah ada beberapa vendor yang merilis JDK versinya sendiri, seperti IBM, Red Hat (membutuhkan akun Red Hat), dan Azul yang bersumber dari kode OpenJDK. Nah, mulai versi 11 Oracle juga merilis versi OpenJDK-nya sendiri. Versi ini bisa digunakan untuk semua penggunaan (pribadi/komersial) tanpa membayar lisensi. Jangan lupa, AdoptOpenJDK juga menyediakan unduhan OpenJDK dengan dua versi, menggunakan JVM Oracle Hotspot atau Eclipse OpenJ9.

Kesimpulannya, Oracle JDK versi 11 tidak sepenuhnya gratis seperti versi-versi sebelumnya. Oracle sendiri merilis versi “sepenuhnya gratis” JDK yang dinamakan Oracle OpenJDK 11 (nama resminya OpenJDK Builds from Oracle). Sebagai alternatifnya (Java 11) ada AdoptOpenJDK dan Zulu dari Azul. Red Hat dan IBM sejauh ini belum merilis JDK versi 11.