ad-12 Blog

Syndicate content ad-12 Labs
Because I Can't Become Somebody Else
Updated: 3 weeks 1 day ago

LINE Merger dengan Yahoo?

Thu, 03/25/2021 - 17:02

Selama ini kita mengenal Yahoo! sebagai layanan internet yang pernah berjaya di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, Yahoo! merajai layanan directory, search, news, e-mail, messaging, groups (mailing list), games, hingga free hosting (GeoCities), online bookmarks (delicious) dan photo sharing (Flickr). Namun, perlahan-lahan kejayaan itu surut hingga nyaris tak berbekas. Hari ini layanan Yahoo! yang tersisa hanyalah news dan e-mail. Sejak 2017, Yahoo! telah dijual ke Verizon, di bawah payung baru, Oath, bersama-sama brand seperti Aol., engadget, dan TechCrunch. Sementara, beberapa aset yang menguntungkan di-spinoff seperti Yahoo! Japan dan saham di Alibaba.com, dalam perusahaan yang disebut Altaba. LINE, berawal dari bencana alam gempa bumi dan tsunami di Jepang pada tahun 2011. Saat itu, hancurnya infrastruktur telekomunikasi memaksa teknisi NHN menggunakan internet untuk berkomunikasi. LINE kemudian tumbuh menjadi aplikasi messaging terpopuler di Jepang, juga di Taiwan dan Thailand dengan lebih dari 700 juta pengguna di seluruh dunia.

(Sumber: asia.nikkei.com)

Baru-baru ini beredar kabar bahwa Yahoo mengakuisisi LINE, sebenarnya apa yang terjadi? Jadi begini, Altaba sebagai pemilik Yahoo! Japan menjualnya kepada SoftBank, partner bisnisnya, di akhir tahun 2018. Altaba akhirnya menutup usahanya di tahun 2019 setelah menjual semua asetnya yang tersisa, termasuk sahamnya di Alibaba.com. SoftBank kemudian membentuk perusahaan baru bersama Naver corporation sebagai pemilik LINE, yang kemudian membawahi Yahoo! Japan dan LINE. Sampai hari ini Yahoo! Japan masih beroperasi dengan tampilan ala Yahoo! tahun 2000-an, dengan layanan yang sangat beragam.

Selamat Datang (Kembali?) TV Digital

Tue, 01/05/2021 - 06:52

Salah satu isu yang sering muncul (dan tenggelam lagi) adalah migrasi penyiaran TV dari analog ke digital. Menariknya, isu ini jarang muncul di pemberitaan TV! Akibatnya, persepsi masyarakat umum menjadi simpang siur, apakah TV digital ini, bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital, channel TV mana saja yang tersedia, berbayarkah siaran TV digital, perbandingannya dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming), dan kapan tepatnya peralihan ini dilakukan. Di bawah ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan coba dibahas satu per satu.

(source: https://says.com/my)
  1. Apakah TV Digital itu?
    • TV digital adalah sistem penyiaran televisi menggunakan sistem digital encoding. Siaran televisi tidak lagi menggunakan sinyal analog pada frekuensi tertentu, namun dengan mengirimkan bit-bit terkompresi (menggunakan teknologi MPEG-2/MPEG-4) sehingga satu frekuensi bisa digunakan lebih dari satu channel. Sistem penyiaran TV digital yang digunakan adalah DVB-T2 (Digital Video Broadcasting Terrestrial 2)
  2. Bagaimana cara menyaksikan siaran TV digital?
    • Perangkat yang dibutuhkan adalah tuner yang mendukung teknologi DVB-T2. Jika kita memiliki/membeli TV keluaran terbaru, kemungkinan perangkat itu sudah memiliki tuner DVB-T2 built-in. Jika Anda memiliki TV keluaran lama, Anda membutuhkan perangkat tambahan berupa set-top box (STB) yang mendukung teknologi DVB-T2. Siaran TV digital menggunakan frekuensi UHF, sama dengan TV analog, sehingga Anda tidak perlu mengganti antena TV yang sudah ada.
  3. Apakah keunggulannya dibandingkan dengan TV analog?
    • Selain penggunaan frekuensi yang lebih efisien, channel yang tersedia lebih banyak, siaran TV digital ini lebih bagus kualitas gambar dan suaranya dibandingkan dengan siaran TV analog. Sebagai perbandingan. kualitas TV analog setara dengan VCD, maka siaran TV digital (Standard Definition) minimal setara dengan DVD, sementara siaran TV digital HD (High definition) setara dengan Blu-Ray. Perbedaan yang paling jelas terlihat, siaran TV analog akan menampilkan pola moire (semut) saat (penerimaan) sinyal kurang kuat, siaran digital akan pause, tampak pola kotak-kotak (mosaik), atau bahkan langsung menghilang saat penerimaan sinyal kurang kuat.
  4. Channel mana saja yang tersedia?
    • Meskipun belum resmi, sejumlah stasiun TV selama ini sudah melakukan siaran digital, meskipun terbatas di area tertentu. Sejumlah stasiun TV juga sempat menghentikan siarannya atau berpindah ke mux/frekuensi lain. Di bawah ini adalah daftar siaran TV digital untuk area Jabodetabek per Januari 2021, harap diingat bahwa penambahan atau pengurangan channel bisa terjadi sewaktu-waktu.
      1. mux 24 (498 Mhz): SCTV, Indosiar
      2. mux 32 (562 MHz): MetroTV, MetroTV HD, MagnaTV, BNTV, BBSTV, UGTV, JawaPosTV, MyTV
      3. mux 34 (578 MHz): antv, tvOne, SportOne
      4. mux 36 (594 MHz): Berita Satu, Berita Satu World
      5. mux 40 (626 MHz): TransTV, Trans7, CNN Indonesia, CNBC Indonesia
      6. mux 42 (642 MHz): TVRI Nasional, TVRI DKI, TVRI 3, TVRI Sports HD, TVMu, NusantaraTV, DAAITV, TempoTV, InspiraTV, BadarTV, KompasTV, GramediaTV, MMITV, OpusTV
      7. mux 44 (658 MHz): RCTI, MNCTV, GTV, iNews
      8. mux 48 (690 MHz): rtv-1 HD, rtv-2 HD
  5. Apakah TV digital ini berbayar?
    • Tidak, siaran ini bisa disaksikan scara gratis (FTA/Free to Air) seperti halnya TV analog, asalkan Anda memiliki perangkat DVB-T2 dan siaran tersedia untuk area sekitar.
  6. Bagaimana perbandingan TV digital dengan TV analog/TV satelit (parabola)/TV kabel/IPTV (OTT/Video on Demand/Streaming)?
    • TV Analog: sama-sama gratis (FTA), hanya sistem penyiaran berbeda
    • TV satelit/parabola: tersedia siaran gratis dan berbayar serta membutuhkan perangkat antena (parabola/satellite dish) dan receiver (DVB-S2)
    • TV kabel: umumnya berbayar dan membutuhkan koneksi kabel (coaxial/fiber) dan dekoder
    • IPTV/OTT/Video Streaming:tersedia layanan gratis dan berbayar serta membutuhkan koneksi internet dan bisa diakses menggunakan smartphone, PC/laptop, SmartTV, atau STB
  7. Kapan migrasi ke TV digital ini dilakukan?

It’s the End of CentOS as We Know It

Tue, 12/15/2020 - 16:01

(And I Feel Fine…?). Mungkin memang sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Distro linux populer, CentOS, alias Red Hat Enterprise Linux Clone ini akhirnya tidak lagi dikembangkan oleh Red Hat. Yup, mungkin tanda-tandanya mulai terlihat sejak pengambilalihan CentOS oleh Red Hat di tahun 2014. Red Hat memperkenalkan CentOS Stream di bulan September 2019 sebagai “jembatan” antara Fedora dan Red Hat Enterprise Linux, yang diperbarui secara terus-menerus, mungkin bisa disamakan dengan Debian Testing Branch, jika Fedora adalah Debian Unstable Branch. Nah, ke depannya CentOS Stream akan tetap dipertahankan, secara efektif menggantikan CentOS dalam pengertian sekarang. Reaksi dari komunitas pengguna CentOS/Red Hat Enterprise Linux sebagian besar negatif, apalagi sebelumnya CentOS 8 (versi terakhir) dijanjikan akan didukung hingga 2029 (seperti halnya Red Hat Enterprise Linux 8), namun sekarang akan dihentikan pengembangan dan dukungannya pada Desember 2021. Ironis mengingat dukungan untuk CentOS 7 baru akan berakhir pada tahun 2024.

(sumber: openlogic.com)

CentOS (Community Enterprise Operating System) adalah hasil rebuild dari kode sumber Red Hat Enterprise Linux (RHEL). Meskipun Red Hat merilis RHEL sebagai produk berbayar, kode sumbernya dirilis untuk publik untuk memenuhi ketentuan lisensi GPL. Beberapa pihak dalam komunitas menggunakannya untuk membuat distro yang kompatibel dengan RHEL, di antaranya Springdale Linux, Scientific Linux, dan Oracle Linux (sebelumnya Oracle Unbreakable Linux dan Oracle Enterprise Linux). CentOS dimulai pada tahun 2004 dan menjadi yang terpopuler di antara distro RHEL clone lainnya. Scientific Linux bahkan telah menghentikan pengembangannya dan menyarankan penggunanya untuk beralih ke CentOS. Pada tahun 2010, CentOS sempat menggeser Debian sebagai sistem operasi server web terpopuler berbasis linux. Para penggunanya menyukai stabilitas, kompatibilitas dengan RHEL, dan tentu saja, kebebasan untuk menggunakan CentOS di lingkungan pengembangan maupun produksi. Tentu saja, itu akan segera berakhir.

Tampilan Situs Parodi CentOS (sumber: http://centos.rip)

Tentu saja, berakhirnya CentOS membuka peluang untuk memunculkan alternatifnya, Selain Springdale Linux dan Oracle Linux, dua proyek baru dimunculkan setelah kabar ini dirilis, Project Lenix AlmaLinux (dari CloudLinux) dan Rocky Linux, yang diinisiasi oleh Gregory Kurtzer, salah satu pendiri CentOS. Anda juga bisa mempertimbangkan untuk mendapatkan lisensi developer untuk RHEL, atau berpindah sepenuhnya ke distro linux lain seperti Debian, Ubuntu, atau SUSE. Sebagai pembanding silakan menyimak artikel oleh seorang karyawan Red Hat seputar hal ini atau artikel oleh karyawan Red Hat lainnya (dan satu lagi, baca juga komentar pertama artikel ini oleh admin grup Facebook CentOS) . Intinya, Red Hat, sengaja atau tidak, merangkul CentOS untuk menarik komunitasnya, untuk mengubahnya (CentOS dan komunitasnya) menjadi penguji RHEL dengan merilis CentOS Stream (dan kemudian menghentikan pengembangan dan dukungan CentOS). Well, bagi Penulis CentOS adalah salah satu episode dalam karier profesional (berawal dari sini).