ad-12 Blog

Syndicate content ad-12 Labs
Because I Can't Become Somebody Else
Updated: 13 weeks 2 days ago

Bye Bye, BBM!

Thu, 04/18/2019 - 15:42

(sumber: blog.bbm.com)

Masih memakai BBM (Blackberry Messenger)? Mungkin kini saatnya untuk berganti aplikasi. Terhitung tanggal 31 Mei 2019 nanti layanan BBM akan dihentikan.  Layanan yang diluncurkan pada tanggal 1 Agustus 2005 dengan nama BlackBerry Messenger ini pada awalnya hanya mendukung perangkat/platform BlackBerry saja. Ketika BlackBerry menjadi smartphone terpopuler di dunia, layanan ini pun demikian. Para penggunanya tidak malu-malu bertukar BlackBerry ID dengan pengguna lain atau memajangnya di CV dan kartu nama. Seiring munculnya platform smartphone lain seperti iOS dan Android serta aplikasi messaging lintasplatform seperti WhatsApp, LINE, atau WeChat, BlackBerry dan BBM pun semakin berkurang peminatnya. Hingga akhirnya pada tahun 2013 BBM dirilis untuk platform iOS dan Android. Namun demikian, popularitas BBM tidak kunjung membaik hingga akhirnya terhitung sejak 27 Juni 2016 BBM diambil alih oleh perusahaan asal Indonesia, Emtek. BBM kemudian dikembangkan dengan fitur baru seperti sticker, BBMoji, bahkan platform pembayaran yang disebut Dana. Tapi nampaknya itu semua tidak menolong, dan akhirnya BBM pun harus ditutup. Pengguna platform pembayaran Dana harus mengunduh app standalone Dana untuk tetap menggunakannya.

KaiOS, Kuda Hitam di Antara Android dan iOS

Sat, 03/30/2019 - 12:10

Saat kita membicarakan soal handphone, atau tepatnya smartphone saat ini, maka pilihan platform yang tersedia saat ini hanyalah dua: Android dan iOS (iPhone). Sejumlah platform lain sudah tidak lagi dikembangkan seperti Symbian (termasuk Nokia Platform, S30/S40), BlackBerry, atau Windows (Mobile). Begitu juga berbagai platform lain seperti MeeGo, Sailfish/Jolla, Bada, Tizen, Ubuntu Touch,  webOS, atau FirefoxOS. Namun, siapa yang menyangka dalam dua tahun belakangan ini diam-diam sudah muncul platform lain untuk menantang duopoli Android/iOS. KaiOS, yang dikembangkan mulai tahun 2017, kini telah mencapai 80 juta pengguna dan menjadi sistem operasi smartphone kedua  di India menggeser iOS. Bukan pencapaian sepele untuk sebuah platform yang baru berusia kurang dari dua tahun dan dikembangkan oleh perusahaan “UMKM” di bidang teknologi.

(source: kaiostech.com)

KaiOS sendiri sebenarnya berbasis dari FirefoxOS, sistem operasi smartphone yang dikembangkan oleh Mozilla  dan dihentikan pengembangannya di tahun 2016. Lebih tepatnya, KaiOS merupakan fork dari B2G (Boot to Gecko), proyek open source yang merupakan fork dari FirefoxOS. Berbeda dari FirefoxOS, KaiOS dioptimasi untuk produk handphone berspesifikasi rendah dan masih menggunakan keypad dan tombol navigasi alih-alih layar sentuh (touchscreen). Konsep yang mirip dengan Android Go, hanya KaiOS memungkinkan hadirnya smartphone seharga feature phone. Pada bulan Juni 2018, Google bahkan telah menanamkan USS$ 22 juta untuk mendukung pengembangan KaiOS. Google juga memastikan kehadiran aplikasi sepertiYouTube, Maps, dan Assistant untuk KaiOS. KaiOS Technologies, pengembang KaiOS, berbasis di San Diego California dan bekerja sama dengan sejumlah vendor (Alcatel/TCL, Nokia/HMD, Doro, Maxcom) dan operator telco seperti Reliance (India), MTN (Afrika Selatan), dan Ooredoo (Qatar). Di Indonesia, KaiOS Tech bekerja sama dengan WizPhone meluncurkan WizPhone WP006 pada akhir tahun 2018 melalui gerai Alfamart mulai awal tahun 2019. Handphone seharga Rp 99.000 ini dilengkapi teknologi 4G, WiFi, GPS, Bluetooth dan aplikasi populer seperti Facebook, Twitter, YouTube, Google Assistant, dan Google Maps.

WizPhone WP006 (source: kaiostech.com)

Pengguna Windows 7, Bersiap-siaplah…

Wed, 03/27/2019 - 04:15

Sistem operasi Microsoft Windows 7 dirilis pada tahun 2009, artinya sudah berusia 10 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, Microsoft sudah tiga kali merilis sistem operasi baru: Windows 8 (2013), Windows 8.1 (2014), dan Windows 10 (2016). Artinya, memang para pengguna diharapkan sudah beralih ke sistem operasi versi selanjutnya. Namun demikian, nampaknya Windows 7 ini mempunyai penggemar yang setia, hingga saat ini masih menjadi versi terpopuler di bawah Windows 10, mengalahkan Windows versi 8/8.1. Terlepas dari popularitasnya, siklus hidup Windows 7 akan segera berakhir (seperti halnya Windows XP) dengan dihentikannya support dari Microsoft terhitung tanggal 14 Januari 2020. Sebenarnya, support mainstream (mencakup security dan feature update) telah berakhir pada tanggal 13 Januari 2015, sementara ini yang masuh berlaku adalah extended support (security update).

(sumber: http://www.bleepingcomputer.com)

Baru-baru ini Microsoft merilis update KB4493132 yang akan memunculkan window peringatan seperti gambar di atas. Jika Anda rajin melakukan pembaruan Windows 7 Anda, maka update ini akan terpasang secara otomatis. Anda bisa menonaktifkan peringatan ini dengan menandai opsi “Do Not Remind Me Again” di sudut kiri bawah. Anda juga bisa mengabaikan instalasi update KB4493132 dengan membuka Control Panel, Windows Update lalu klik kanan pada update dan memilih opsi Hide update. Yang pasti, ada peringatan atau tidak, para pengguna Windows 7 tetap harus bersiap-siap menentukan pilihan setelah tanggal 14 Januari 2020, apakah tetap menggunakan Windows 7 tanpa pembaruan, upgrade ke Windows 10, atau beralih ke sistem operasi lain seperti Linux atau macOS. Oh ya, update ini tidak tersedia untuk pengguna Windows 7 versi Professional atau Enterprise, karena bagi mereka masih tersedia opsi support berbayar hingga 10 Januari 2023.

Cara menyembunyikan peringatan berakhirnya support untuk Windows 7

Bolt Ditutup, Pelanggan Dialihkan ke Smartfren

Thu, 01/03/2019 - 04:17

(Sumber: bolt.id)

Setelah ramai berpolemik melawan Kementrian Kominfo, akhirnya layanan Bolt ditutup terhitung 28 Desember 2018. Penyebabnya adalah tunggakan pembayaran pemakaian frekuensi 2300 MHz selama tiga tahun oleh operator Internux dan First Media. Sempat menimbulkan kebingungan  bagi pengguna layanan internet kabel First Media, yang dioperasikan oleh perusahaan yang berbeda (LinkNet) dan tentu saja tidak memerlukan frekuensi, apalagi bayar lisensi.

Sementara itu, para pelanggan setia Bolt harus menghadapi kenyataan pahit dengan penghentian layanan ini. Untungnya, mereka diberikan pilihan, antara pengembalian pulsa/kuota (refund) atau pengalihan layanan ke Smartfren atau internet kabel First Media. Pelanggan yang memilih beralih ke Smartfren bisa melakukan verifikasi di Bolt Zone untuk mendapatkan kartu perdana Smartfren, sementara pelanggan Bolt Home yang berada dalam cakupan layanan internet kabel First Media bisa beralih ke layanan tersebut dengan penawaran khusus. Pengalihan ke Smartfren dilakukan karena keduanya sama-sama menggunakan frekuensi 2300 MHz.